Satu bunyi kecil “ting” dari ponsel bisa membuat jantung langsung berdebar. Padahal, sering kali isinya hanya pesan biasa, promo, atau meme. Namun tubuh kita bereaksi seolah menghadapi sesuatu yang penting atau bahkan berbahaya.
Hal ini terjadi karena otak memproses bunyi mendadak sebagai sinyal penting. Sejak zaman purba, suara tiba-tiba berarti ancaman. Walau sekarang bunyi itu hanya notifikasi, sistem saraf tetap merespons dengan meningkatkan detak jantung, ketegangan otot, dan kewaspadaan.
Otak yang Terlalu Reaktif
Otak kita menyukai hal baru dan tidak terduga. Notifikasi memicu pelepasan dopamin, zat kimia yang membuat kita penasaran dan ingin segera mengecek. Kita berharap mendapat kabar baik, pujian, atau sesuatu yang menyenangkan. Tapi di saat yang sama, kita juga cemas kalau isinya justru kabar buruk atau masalah.
Karena itulah, setiap bunyi terasa penting, walau sering kali tidak. Bahkan pesan sederhana seperti “OK” bisa memicu berbagai tafsiran dan emosi.
Naluri Kuno di Dunia Modern
Tubuh manusia masih memakai sistem bertahan hidup lama: fight or flight. Sistem ini tidak bisa membedakan antara ancaman nyata dan notifikasi ponsel. Akibatnya, tubuh bereaksi berlebihan—napas cepat, jantung berdebar, dan otot menegang—padahal yang dihadapi hanya pesan teks.
Grup chat yang ramai juga memicu stres. Banyaknya pesan membuat kita takut tertinggal informasi, salah paham, atau merasa tersisih. Ini berkaitan dengan naluri sosial manusia: dulu, tersisih dari kelompok berarti bahaya.
Kecanduan dan Validasi Sosial
Notifikasi bekerja seperti mesin judi. Kita tidak pernah tahu kapan pesan datang dan apa isinya. Ketidakpastian ini membuat kita terus mengecek ponsel. Kadang menyenangkan, kadang mengecewakan, tapi justru itulah yang membuatnya adiktif.
Like, balasan, dan notifikasi juga memberi rasa dihargai. Kita merasa diperhatikan dan diingat. Namun jika tidak ada respons, muncul kecemasan dan rasa diabaikan. Fitur seperti “dibaca” bahkan bisa memperbesar ketegangan dan overthinking.
Tekanan dari Dunia Kerja
Notifikasi kerja sering terasa lebih menegangkan. Satu email bisa berarti tugas baru, revisi, atau masalah. Budaya kerja yang menuntut respons cepat membuat setiap bunyi terasa mendesak. Akibatnya, stres meningkat dan tubuh selalu siaga.
Getar Hantu dan Kelelahan Mental
Karena terlalu sering menunggu notifikasi, otak bisa menciptakan sensasi palsu, seperti merasa ponsel bergetar padahal tidak. Ini tanda bahwa sistem saraf terlalu tegang dan waspada.
Cara Mengurangi Dampaknya
Mematikan atau membatasi notifikasi bukan berarti antisosial. Justru itu cara merawat kesehatan mental. Kita bisa memilih notifikasi yang benar-benar penting dan mematikan sisanya.
Dengan begitu, kita memberi ruang bagi otak untuk beristirahat. Tidak setiap bunyi “ting” perlu ditanggapi dengan deg-degan. Kadang, itu hanyalah suara kecil yang tidak membawa dampak besar.