Dunia mengenal Elon Musk dengan Tesla-nya, tapi dunia belum melihat keajaiban seorang anak kos yang bisa bertahan hidup selama tiga hari hanya dengan modal doa dan sisa remah kerupuk kaleng. Menjadi anak kos bukan sekadar status kependudukan sementara; ini adalah pelatihan militer terselubung yang dibungkus dengan aroma kaus kaki lembap dan mi instan varian soto.
Ibadah Tahajud demi Air yang Tak Kunjung Mengalir
Sebagai anak kos, musuh terbesar kita bukanlah dosen killer atau tenggat waktu skripsi, melainkan pompa air. Di kosan tipe “Gupuh” (Gugup-Puyeng-Habisduit), air adalah barang mewah yang kemunculannya lebih langka daripada jadwal bimbingan dosen yang sedang liburan ke Eropa.
Ada hukum rimba yang berlaku: Siapa yang bangun duluan, dia yang berhak mandi dengan air jernih. Sisanya? Silakan menikmati air berwarna teh oolong yang aromanya mirip pipa peninggalan zaman kolonial. Di sinilah letak satirnya; kita dipaksa religius bukan karena iman, tapi karena kalau tidak bangun subuh, kita terpaksa “mandi kucing” pakai tisu basah atau sekadar semprot parfum body mist aroma vanilla yang dicampur bau keringat seharian—sebuah perpaduan aroma yang bisa membuat pingsan kecoa di sudut kamar.
Gastronomi Tingkat Tinggi: Mi Instan sebagai Mata Uang Utama
Mari kita bicara soal nutrisi. Bagi anak kos, piramida makanan itu tidak ada. Yang ada hanyalah lingkaran setan karbohidrat.
-
Minggu Pertama: Makan nasi padang rendang ganda, es jeruk, rokok sebungkus. Gaya hidup sudah mirip sultan Qatar yang lagi mampir ke daerah penyangga ibu kota.
-
Minggu Kedua: Nasi rames, lauk tempe satu, tapi kuahnya minta banjir sampai nasinya berenang.
-
Minggu Ketiga: Mi instan adalah Tuhan. Kita mulai melakukan eksperimen kimia: mi instan rasa ayam bawang dicampur sisa bumbu pecel kemarin sore.
-
Minggu Keempat: Fase photosynthesis. Kita cukup duduk di depan jendela, menghirup udara yang mengandung aroma sate dari warung sebelah sambil memandangi foto makanan di Instagram.
Di titik ini, ginjal kita mungkin sudah berbentuk kotak dengan tulisan “bumbu penyedap” di atasnya. Tapi hey, setidaknya kita belajar manajemen krisis, kan?
Estetika Interior: Antara Jemuran dan Galon Kosong
Kamar kos adalah representasi dari isi kepala penghuninya: berantakan dan penuh kepalsuan. Kita punya sudut khusus yang disebut “Kursi Kepresidenan”. Bukan karena kita presiden, tapi karena kursi itu tertutup tumpukan baju yang sudah dipakai tapi “belum kotor-kotor amat” untuk dicuci.
Estetika kamar kos adalah perpaduan antara gudang logistik dan instalasi seni kontemporer. Galon kosong ditumpuk jadi meja belajar, kardus mi instan jadi rak buku, dan kabel charger yang melilit di mana-mana mirip sarang laba-laba yang sedang depresi.
Belum lagi soal tetangga kamar. Selalu ada satu orang yang hobinya menyetel musik EDM di jam 2 pagi saat kita sedang merenungi nasib, atau yang lebih parah: tetangga yang pacaran di ruang tamu kosan sampai jam 11 malam, membuat kita yang jomblo ini merasa butuh memanggil Damkar untuk menyiram api kecemburuan (atau sekadar mengusir mereka).
Kesimpulan: Kita Adalah Pahlawan yang Tidak Diinginkan
Menjadi anak kos mengajarkan kita bahwa kebahagiaan itu sederhana: cukup melihat lampu indikator rice cooker pindah ke “Warm” saat perut sudah bunyi keroncongan, atau menemukan uang 5 ribu di saku celana yang sudah setahun tidak dicuci.
Jadi, untuk kalian para pejuang kamar sempit, tetaplah semangat. Ingat, penderitaan ini hanyalah sementara. Nanti kalau sudah lulus dan kerja, penderitaannya tetap sama, cuma tempat kosnya saja yang ada AC-nya.